Beranda > Berita > Bisnis Oleh-oleh Khas Banten, Dari Sate Bebek Sampai Sate Bandeng

Bisnis Oleh-oleh Khas Banten, Dari Sate Bebek Sampai Sate Bandeng

Bisnis Oleh-oleh Khas Banten, Dari Sate Bebek Sampai Sate Bandeng

Setiap daerah tentu memiliki keunikan yang membedakannya dengan daerah lain. Kuliner daerah yang khas dapat menjadi simbol suatu daerah. Sebut saja pempek dari Palembang atau peuyeum dari Bandung.
Tak kalah dengan daerah lain, Banten pun mempunyai keunikan dalam hal kuliner. Sate bandeng, sate bebek, rabeg, dendeng kerbau bahkan makan ringan seperti emping ceplis, baso ikan goreng, dan gipang menjadi makanan khas Banten.
Tak sulit mencari makanan oleh-oleh khas Banten tersebut. Beberapa kios khusus menjual makanan oleh-oleh khas Banten bisa ditemukan di pusat Kota Serang. Seperti di perempatan Ciceri, Pasar Lama, Pasar Rau, dan gerbang jalan tol Serang Timur. Berbagai macam pilihan menu dan juga cita rasa terdapat disana.

Makanan ringan khas Banten
Gipang merupakan makanan yang merakyat tetapi juga masih banyak orang yang mencarinya, bahkan hampir semua toko penjualan oleh–oleh khas Banten yang menjualnya.
“Di sini banyak yang mencari kue gipang untuk dijadikan oleh–oleh, banyak juga yang membelinya hanya untuk makanan cemilan,” ungkap salah seorang pedagang oleh-oleh di jalan tol Serang Yanti (20).
Bukan hanya Gipang saja yang menjadi incaran para wisatawan atau pengunjung di Banten untuk dijadikan oleh-oleh khas Banten, salah satunya yaitu emping ceplis yang disediakan dalam berbagai macam rasa seperti asin mentega dan pedas. Oleh–oleh khas ini disajikan dalam kemasan plastikan per kilogram.
Salah seorang penjual oleh-oleh makanan ringan khas Banten yang berlokasi di Pasar Lama Hj. Heriah menjelaskan, konsumen pada umumnya memilih beranekaragam makanan untuk dibawa sebagai oleh–oleh, “Tidak dapat dijelaskan makanan apa yang paling sering dibeli oleh konsumen,” ungkapnya.
Mengenai bisnis oleh-oleh makanan ringan khas, para penjual menjelaskan bisnis ini sangat menjanjikan dan penjualannya tidak pernah surut. Selain para wisatawan yang berkunjung ke Banten banyak pula instansi, baik instansi pemerintahan dan juga instansi umum, “Mereka rata-rata membeli dalam bentuk borongan atau per paket,” jelas Hj. Heriah.
Pembeli paling banyak datang dari daerah Serang, karena memang mereka sudah menyukai makanan ringan yang biasa dijadikan oleh-oleh khas ini. Tetapi banyak juga pembeli dari luar Banten seperti dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bandung, bahkan dari Palembang.
Pebisnis jajanan khas Banten ini tidak punya strategi khusus dalam hal untuk memasarkan barang dagangannya. Promosi yang dilakukan hanya dari orang-orang sekitarnya saja, “Paling-paling promosiinnya juga dari mulut ke mulut, tidak perlu muluk-muluk,” terangnya.
Selain dua jenis makanan yang disebutkan di atas masih banyak lagi jajanan khas Banten yang ditawarkan di toko makanan ringan khas Banten seperti, Kue Satu, Kue Sagon, Manisan Asem Keranji, dan lainnya.

Sate Bebek Khas Cibeber
Selain jajanan ringan, Banten juga mempunyai makanan khas lainnya yang berasal dari Cibeber Banten. Sate bebek juga merupakan ciri khas kuliner Banten yang banyak digemari oleh masyarakat Banten pada umumnya dan para wisatawan pada khususnya.
Salah satu pengusaha Rumah Makan yang menyajikan menu makanannya yang terbuat dari bebek yaitu H Syamsudin yang terletak di Jl. Abdul Latif, Sumur Pecung, Serang.
Awal mula H. Syamsudin menyajikan sate bebek dalam menu makanannya adalah dalam bentuk pengembangan usahanya dan juga menciptakan gebrakan dari usahanya yang lama.
“Secara kebetulan istri saya dari Cibeber kenapa tidak kita mencoba membuat menu baru yaitu sate bebek yang merupakan makanan khas Banten,” jelasnya.
Menu favorit yang tersedia di rumah makan miliknya Rumah Makan Damai 05 dan banyak dibeli oleh konsumen yaitu sate bebek, selain daging bebeknya yang empuk, bumbunya juga meresap sampai ke dalam dagingnya, “Sebenarnya kalo makan sate bebek tidak usah pake bumbu sambelnya, hanya dengan bumbu satenya saja sudah terasa enak,” tegasnya.
Dalam sehari omset yang diperoleh dapat mencapai Rp 2 juta/hari, dengan menghabiskan 30 ekor bebek per harinya. Ketika ditanya kapan pengunjung banyak yang datang H. Syamsudin menjelaskan tergantung dari waktu kunjungannya, “Tergantung dari waktunya, biasa paling rame pengunjung di awal-awal bulan dan juga liburan,” terangnya.
Suasana Rumah Makan milik H. Syamsudin sangat merakyat dan terbuka, jadi bisa siapa saja yang datang berkunjung dan makan di Rumah Makannya, “Kita tidak membatasi pengunjung yang ingin makan di rumah makan ini, untuk siapa saja boleh makan,” lanjutnya.
Persaingan di bidang kuliner khas Banten, menurut H. Syamsudin, menghadapinya dengan cara bersikap ramah. “Pelanggan yang datang dianggap saudara, dan kita juga tidak terlaku menekankan harga jual, yang terpenting adalah tali silaturahmi. Untuk masalah keuntungan tidak terlalu diutamakan.”
Disinggung soal obsesinya membuka cabang rumah makan khas bebek ini di kota lain, H. Syamsudin menjelaskan, “Kalo saya membuka rumah makan khas sate bebek ini di Jakarta, ntar orang Jakarta tidak ada yang berkunjung ke Serang dong,” kilahnya.
Para wisatawan yang ingin membawa sate bebek ini sebagai oleh-oleh untuk kerabat, tak perlu takut basi. Sate bebek bisa tahan lama untuk dibawa. Selama satu hari satu malam. Konsumen yang berkunjung ke Rumah Makan H. Syamsudin juga ada yang berasal dari Jakarta, Bandung dan Palembang.

Sate Bandeng Khas Banten Ibu Aliyah

Sate Bandeng

ilustrasi: sate bandeng

Yang paling unik dari kuliner khas Banten adalah bentuk penyajiannya dalam bentuk sate, selain sate bebek yang menjadi andalan kuliner Banten yaitu sate bandeng. Kuliner ini sudah terkenal di berbagai penjuru di Indonesia, dengan dipublikasikannya kuliner ini melalui beberapa media, baik itu cetak dan elektronik.
Sate Bandeng yang terkenal di Banten yaitu Sate Bandeng Ibu Aliyah. Usaha ini didirikan sejak tahun 1989, merupakan usaha turun-temurun dari sejak dahulu. Harga yang ditawarkan oleh Sate Bandeng Ibu Aliyah termasuk tinggi yaitu sebesar Rp. 25 ribu per ekor.
“Harga boleh lebih mahal tetapi kita mengimbanginya dengan kualitas rasa yang lebih dan beda,” ujarnya.
Aliyah menambahkan percuma dijual harga murah tetapi kualitas rasa tidak diperhatikan.
Aliyah dalam satu hari dapat memproduksi Sate Bandeng sebanyak 60 tusuk dengan ikan sebanyak 20 Kg. Sate Bandeng Ibu Aliyah melakukan inovasi baru dengan menyediakan dua macam pilihan rasa, rasa biasa, manis gurih, dan rasa pedas. Tergantung keinginan pembeli yang mana yang paling disukai. Ikan yang dipilih untuk dibuat sate bandeng tentunya adalah ikan yang terbaik dan masih segar dengan produksi sebanyak dua hari satu kali.
Persaingan usaha pembuatan sate bandeng menurut Aliyah, mengalami persaingan yang tidak sehat. “Dulu saya pertama kali yang mempelopori berjualan sate bandeng di sepanjang jalan tol menuju Serang Timur, tetapi sekarang sudah banyak yang berjualan dengan harga murah dan rasa yang tidak menjamin, maka dari itu saya pindah dan membuka usaha ini di rumah saja,” terangnya.
Aliyah menambahkan dalam menghadapi persaingan merupakan sebuah tantangan baginya dan semakin menambah keyakinannya untuk bisa bertahan di antara persaingan yang ada.

Rabeg H. Markam

rabeg

ilustrasi: rabeg

Mengawali bisnisnya 27 tahun yang lalu rabeg buatan H. Markam menjadi menu andalan di warung nasi miliknya. Saat Koran Banten berkunjung ke warung nasi H. Markan, ada beberapa pelanggan yang harus merasa kecewa dan kembali pulang, karena rabeg yang dicarinya telah habis terjual sebelum jam makan siang.
Rasa rabeg yang khas akan berbagai macam rempah-rempah menjadi ciri khas rabeg H. Markam, resep rahasia yang dimilikinya merupakan warisan dari seorang yang ahli rabeg di Serang.
Pada umumnya, di setiap acara pernikahan maupun khitanan rabeg selalu menjadi sajian utama. Adapun yang menjadi teman makanan rabeg adalah nasi samin.
Persaingan bisnis rumah makan yang menyajikan menu rabeg sebagai andalannya memang bukan hal baru lagi bagi H. Markam. Dengan konsistensi menggeluti usaha rumah makan ini, H. Markan tetap mempunyai pelanggan setia. (ari/nia)

Kategori:Berita Tag:
  1. Djunaedy Purnama
    Maret 25, 2010 pukul 7:10 am

    Salam kenal, Bu

    Saya senang sekali membaca artikel ibu. Cukup menarik dan ada banyak peluang di banten.
    Saya saat ini bergerak dimakanan tradisional ( kue dodol )
    Rumah produksi saya ada di daerah Tenjo.
    Mungkin kita bisa bekerja sama dalam memasarkan produk saya ini.
    Kontak Hp saya di 081318804418

    Wassallam,

  2. Agustus 9, 2010 pukul 2:36 am

    menarik sekali.. sy dukung usaha anda. mari kita online kan oleh oleh khas daerah. sy sbg asli putra kediri juga menjual scr online oleh oleh khas kediri ada gethuk pisang.. tahu kuning takwa.. stick tahu.. kopi racik.. kopi berontoseno.. keripik 02 bekicot dll. kunjungi http://www.olehkediri.blogspot.com atau sms di 089679255409

  3. imam
    Maret 21, 2011 pukul 10:44 am

    ada yg jual sate bandeng di jakarta gak?

  4. Rachmat
    Juli 30, 2013 pukul 9:04 am

    ada yg jual sate bandeng di bdg nggak? Saya mau beli…tolong hubungi saya di nomer 081322308168 dgn pak rachmat… nuhun…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: